Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, 12 April 2012

INTERAKSI SPESIES DAN KONSEP KOMUNITAS SERTA SIFAT KOMUNITAS


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Pada hakekatnya mahluk hidup di bumi ini hidup tidak sendirian atau hanya bersama individu-individu dari masyarakat kalangan sendiri. Hal yang dijumpai dalam alam adalah campuran berbagai populasi dari berbagai spesies. Walaupun ada spesies yang tidak terpengaruh oleh hadirnya spesies lain tetapi pada umumnya terdapat dua atau lebih spesies berinteraksi, sehingga keadaan populasi suatu spesies akan berbeda tanpa hadirnya spesies-spesies lain yang berinteraksi dengannya.
Interaksi yang terjadi antarspesies anggota populasi akan memengaruhi terhadap kondisi populasi mengingat keaktifan atau tindakan individu dapat memengaruhi kecepatan pertumbuhan atau kehidupan populasi. Setiap anggota populasi dapat memakan anggota-anggota populasi lainnya, bersaing terhadap makanan, mengeluarkan kotoran yang merugikan lainnya, dapat saling membunuh, dan interaksi tersebut dapat searah ataupun dua arah (timbal balik). Oleh karena itu, dari segi pertumbuhan atau kehidupan populasi, interaksi antaspesies anggota populasi dapat merupakan interaksi yang positif, negatif, atau nol.
Semua organisme beserta lingkungannya bersifat dinamis, artinya bahwa di antara mereka selalu terjadi interaksi sehingga menghasilkan perubahan. Setiap organisme di mana saja berada akan berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan melalui perubahan pada tubuh atau fungsinya. Sedangkan lingkungan juga mengalami perubahan melalui proses fisik atau biogeokimia untuk mempertahankan kualitas penunjang kehidupan dan keseimbangan sistem dalam komunitas. Komunnitas merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh sekaigus sebagai sistem yang dinamis. Perubahan dalam komunitas selalu terjadi, bahkan dalam komunitas hutan yang stabil pun selalu terjadi perubahan, misalnya ada pohon-pohon yang telah tua mengalami tumbang dan mati, terjadilah pembukaan tajuk hutan, sehingga sinar matahari dapat masuk ke lapisan tajuk bagian bawah, maka anakan pohon yang semula tertekan akan tumbuuh dengan baik hingga menyusun lapisan tajuk atas. Demikian seterusnya, setiap ada perubahan dalam komunitas akan ada mekanisme atau proses yang mengembalikan kepada keaadan keseimbangan.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diambil beberapa masalah yaitu:
1.      Apa pengertian dari interaksi spesies?
2.      Apa tipe-tipe yang terdapat dalam interaksi spesies?
3.      Apa pengertian dari komunitas?
4.      Bagaimana struktur dari komunitas?
5.      Bagaimana konsep komunitas dan sifatnya?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini yaitu:
1.      Untuk mengetahui pengertian dari interaksi spesies.
2.      Untuk mengetahui tipe-tipe yang terdapat dalam interaksi spesies.
3.      Untuk mengetahui pengertian dari komunitas.
4.      Agar pembaca dapat menjelaskan struktur dari komunitas.
5.      Agar pembaca dapat memahami konsep komunitas dan sifatnya.

D.    Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diambil dari penyampaian infomasi tentang intteraksi spesies dan konsep komunitas serta sifat komunitas, agar para pembaca dapat memahami lebih mendalam lagi tentang materi yang dismpaikan. Selain itu sebagai referensi dalam memahami interaksi spesies, konsep komunitas serta sifat komunitas.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Interaksi Spesies
Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Jadi interaksi spesies merupakan, hubungan timbal balik antar organisme baik dari spesies yang sama maupun dari spesies yang berbeda. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita. Persaingan terjadi ketika organisme baik dari spesies yang sama maupun dari spesies yang berbeda menggunakan sumber daya alam. Di dalam menggunakan sumber daya alam, tiap-tiap organisme yang bersaing akan memperebutkan sesuatu yang diperlukan untuk hidup dan pertumbuhannya.

B.     Tipe-tipe interaksi spesies
1.      Netralisme
Netralisme menggambarkan hubungan antara dua spesies atau lebih yang berinteraksi tetapi tidak saling mempengaruhi. Ini menggambarkan interaksi di mana kebugaran dari satu spesies sama sekali tidak berpengaruh apapun pada yang lain. Contohnya : antara bunga teratai yang hidup di kolam dengan tumbuhan yang ada tumbuh di sekitarnya (tumbuh di daratan).
2.      Kompetisi
Interaksi antara dua atau lebih spesies yang masing-masing langsung saling menghalangi secara aktif. Terjadi karena persaingan makhluk hidup untuk memperoleh kebutuhan hidup dan kekuasan salah satu atau semua hal tersebut. Kompetisi dapat terjadi antar spesies dalam sebuah populasi, maupun antar populasi. Persaingan antara individu tumbuhan dengan individu lainnya dalam hal pemenuhan kebutuhan nutrisi, air, cahaya, dan ruangan. Contohnya, beberapa jenis tumbuhan yang hidup di suatu daerah yang berkompetisi dalam mendapatkan unsur hara dalam tanah untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya Strategi yang dipergunakan adalah untuk mendapatkan sejumlah zat hara yang melimpah untuk keperluan pertumbuhannya. Kompetisi ada 2 macam yaitu :
a)      Kompetisi tipe gangguan langsung, yaitu interaksi antara 2 atau lebih spesies yang masing-masing langsung saling menghalangi.
b)      Kompetisi tipe penggunaan sumber daya alam, yaitu interaksi antara 2 atau lebih spesies dalam menggunakan sumber daya alam yang persediaannya berada dalam kondisi kekurangan. 
3.      Predasi
Predasi adalah interaksi antara dua atau lebih spesies yang salah satu pihak (prey, organisme yang dimangsa), sedangkan pihak lainnya (predator, organisme yang memangsa) beruntung. Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : tumbuhan kantung semar dan venus fly-trap (Dionaea muscipula ) yang memakan serangga.
4.      Amensalisme dan Alelopati
Amensalisme merupakan interaksi populasi 2 jenis di mana populasi satu dihambat dan populasi lain tidak dipengaruhi. Interaksi amensalisme sama dengan interakasi alelopati. Alelopati merupakan interaksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa. Pada kebanyakan kasus, organisme yang dirugikan disebabkan oleh bahan kimia yang dikenal sebagai allelopathy, yang merugikan secara langsung maupun tidak langsung dari suatu tumbuhan terhadap tumbuhan lain melalui produksi senyawa kimia yang dilepaskan dan dibebaskan ke lingkunga  hidup tumbuhan tersebut. Contohnya Salvia leucophylla, yaitu suatu jenis semak yang dapat melepaskan senyawa kimia berupa terpenes. Terpenes yang dikeluarkan tumbuhan tersebut setelah masuk ke dalam tanah dapat menghambat peekecambahan dan pertumbuhan tumbuhan lainnya dan contoh lainnya, di sekitar pohon walnut (Juglans nigra) yang mengandung hydroxy-juglon yang dikeluarkan melalui pencucian daun oleh air hujan dan masuk ke dalam tanah. Senyawa hydroxyjuglon berubah menjadi racun juglon ketika teroksidasi ke udara, racun tersebut bersifat menghambat perkecambahan dan pertumbuhan tumbuhan jenis lainnya, sehingga di sekitar pohon ini jarang ditumbuhi tumbuhan lain.
5.      Parasitisme
Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bila salah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya. Biasanya interaksi parasitisme ini dilakukan oleh tumbuhan atau hewan tingkat rendah dengan cara menumpang dan menghisap sari makanan dari hewan atau tumbuhan yang ditumpanginya. Hewan atau tumbuhan yang ditumpangi biasa disebut inang. Pada tumbuhan seperti tumbuhan benalu yang menempel pada pohon.
6.      Komensalisme
Komensalisme merupakan hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek (epifit) dengan pohon yang ditumpanginya.
7.      Protokooperasi
Yaitu interaksi antara dua atau lebih spesies yang masing-masing memperoleh keuntungan karena adanya asosiasi. tetapi asosiasi yang terjadi tidak merupakan suatu keharusan. Contohnya adalah kehidupan jamur dan ganggang yang membentuk lumut kerak (lichen)

8.      Mutualisme
Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak oleh adanya asosiasi dan masing-masing spesies memang saling membutuhkan dan merupakan suatu keharusan untuk berasosiasi. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan, bunga dan lebah.
C.    Pengertian Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Setiap komunitas tidak harus menempati daerah yang luas, artinya komunitas dapat mempunyai ukuran berapa pun. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.
Perubahan komunitas yang sesuai dengan perubahan lingkungan yang terjadi akan berlangsung terus sampai pada suatu saat terjadi suatu komunitas padat sehingga timbulnya jenis tumbuhan atau hewan baru akan kecil sekali kemungkinannya.  Namun, perubahan akan selalu terjadi.  Oleh karena itu, komunitas padat yang stabil tidak mungkin dapat dicapai.  Perubahan komunitas tidak hanya terjadi oleh timbulnya penghuni baru, tetapi juga hilangnya penghuni yang pertama.
Macam-macam komunitas di alam terbagi dalam dua bagian yaitu:
1.      Komunitas Akuatik
Merupakan komunitas yang terdapat didaerah berair misalnya dilaut, di danau, di sungai, di parit atau dikolam.
2.      Komunitas terrestrial
Merupakan komunitas yang terdapat didaratan misalnya di pekarangan, di hutan, di padang rumput,dan dipadang pasir.

D.    Struktur Komunitas
Struktur yang diakibatkan oleh penyebaran organisme di dalam, dan interaksinya dengan lingkungannya dapat disebut pola. Struktur komunitas dibedakan menjadi struktur fisik (Struktur fisik suatu komunitas tampak apabila komunitas tersebut diamati) dan biologi (komposisi spesies, kelimpahan individu dalam spesies, perubahan temporal dalam komunitas, hubungan antara spesies dalam suatu komunitas).
1.      Kualitatif, seperti komposisi, bentuk hidup, fenologi dan vitalitas. Vitalitas menggambarkan kapasitas pertumbuhan dan perkembangbiakan organisme.
2.      Kuantitatif, seperti Frekuensi, densitas dan densitas relatif. Frekuensi kehadiran merupakan nilai yang menyatakan jumlah kehadiran suatu spesies di dalam suatu habitat. Densitas (kepadatan) dinyatakan sebagai jumlah atau biomassa per unit contoh, atau persatuan luas/volume, atau persatuan penangkapan.
3.      Sintesis adalah proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah yang berlangsung lambat secara teratur pasti terarah dan dapat diramalkan. Suksesi-suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitasnya dan memerlukan waktu. Proses ini berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut klimas. Dalam tingkat ini komunitas sudah mengalami homoestosis. Menurut konsep mutahir suksesi merupakan pergantian jenis-jenis pioner oleh jenis-jenis yang lebih mantap yang sangat sesuai dengan lingkungannya.

E.     Konsep dan Sifat Komunitas
Pengertian komunitas secara umum adalah kumpulan populasi makhluk hidup yang saling berinteraksi dan tinggal di suatu habitat. Banyak beberapa ilmuan yang menafsirkan dan memberikan pengertian tersendiri mengenai pengertian komunitas. Konsep dasar komunitas diantaranya:
a.       Formasi
Formasi tumbuhan merupakan hasil makroklimat dan ini dikendalikan dan ditentukan batasnya oleh iklim saja.
b.      Asosiasi          
Assosiasi adalah vegetasi regional, dalam formasi ini merupakan klimaks sub iklim dalam formasi umum.
c.       Ekotone    
Ekotone adalah peralihan antara dua atau lebih komunitas yang berbeda.
Terdapat pula tiga konsep yang dapat diterapkan dalam mengamati pola komunitas yaitu :
1.      Konsep Gradasi Komunitas (Community Gradient Coenocline), yaitu konsep yang dinyatakan dalam bentuk populasi.
2.      Konsep Gradasi Lingkungan (Environmental gradient), yang menyangkut sejumlah faktor lingkungan yang berubah secara bersama-sama.
3.      Konsep Gradasi Ekosistem (Ecocline), dalam hal ini kompleks gradasi dan gradasi komunitas membentuk suatu kesatuan sehingga membentuk gradiasi komunitas dan lingkungan
Konsep komunitas cukup jelas, tetapi sering kali pengenalan dan penentuan batas komunitas tidaklah mudah. Meskipun demikian komponen-komponen komunitas ini mempunyai kemampuan untuk hidup dalam lingkungan yang sama di suatu tempat dan untuk hidup saling bergantung yang satu dengan yang lain. Komunitas memiliki derajat kepaduan yang lebih tinggi daripada individu-individu dan populasi tumbuhan serta hewan yang menyusunnya. Komposisi suatu komunitas ditentukan oleh seleksi tumbuhan dan hewan yang kebetulan mencapai dan mampu hidup di tempat tersebut, dan kegiatan anggota-anggota komunitas ini bergantung pada penyesuaian diri setiap individu terhadap faktor-faktor fisik dan biologi yang ada di tempat tersebut.
Cara yang paling baik untuk menamakan komunitas itu adalah dengan mengambul beberapa sifat yang jelas dan mantap, baik hidup maupun tidak. Sifat yang dapat dilihat dari suatu komunitas yaitu :
1.      


Bentuk atau struktur utama, seperti jenis dominan. Bentuk hidup atau indikator lainnya seperti hutan pinus, hutan aghatis, dan hutan jati. Dapat juga berdasarkan sifat tumbuhan dominan seperti hutan sklerofil.

2.      

Berdasarkan habitat fisik dari komunitas seperti komunitas hamparan lumpur, komunitas pantai pasir, dan komunitas lautan.

3.      Berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional misalnya tipe metabolisme komunitas.
4.      Berdasarkan sifat lingkungan alam seperti iklim, misalnya terdapat di daerah tropik dengan curah hujan yang terbagi rata sepanjang tahun, maka disebut hutan hujan tropik.

BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Setelah membahas tentang materi di atas maka dapat diambil kesimpulan dari makalah ini yaitu:
1.      Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Jadi interaksi spesies merupakan, hubungan timbal balik antar organisme baik dari spesies yang sama maupun dari spesies yang berbeda.
2.      Ada tipe-tipe interaksi spesies, yaitu netralisme, kompetisi, amensalisme (alelopati), predasi, parasitisme, komensalisme, protokooperasi dan mutualisme.
3.      Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.
4.      Struktur komunitas ada beberapa yaitu Kualitatif, Kuantitatif dan Sintesis
5.      Konsep dasar komunitas, ada tiga yaitu formasi, asosiasi dan ekotone
6.      Tiga konsep yang dapat diterapkan dalam mengamati pola komunitas :
a.       Konsep gradasi komunitas
b.      Konsep gradasi llingkungan
c.       Konsep gradasi ekosistem
7.      Sifat yang dapat dilihat dari suatu komunitas yaitu, bentuk atau struktur utama, hbitat fisik, tanda-tanda fungsional, dan sifat lingkungan alam.

B.     Saran
Diharapkan mahasiswa dapat mencari sumber-sumber terkait lainnya untuk menjadi bahan referensi penunjang agar dapat lebih memahami tentang ganggang gandar interaksi spesies, konsep komunitas serta sifat komunitas.


Rabu, 11 April 2012

Konsep Kategori dan Unit-Unit Klasifikasi

BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Dalam setiap keanekaragaman tumbuhan, para ahli botani selalu menghadapi persoalan dalam menentukan tingkat takson golongan tumbuhan yang dihadapi. Tingkat takson sangat penting karena tampa adanya tingkatan takson, maka manfaat sistem klasifikasi tidak dapat diperoleh. Menurut kesepakatan internasional, istilah-istilah untuk menyebut masing-masing takson bagi tumbuhan itu tempatnya tidak boleh diubah sehingga masing-masing istilah itu menunjukkan kedudukan atau tingkat dalam hierarki atau menunjukkan kategorinya dalam sistem klasifikasi. Dalam taksonomi tumbuhan istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu takson sekaligus mencerminkan pula di mana posisi dan seberapa tinggi tingkatnya dalam hierarki klasifikasi.
Klasifikasi makhluk hidup merupakan suatu cara memilah dan mengelompokkan mahkluk hidup menjadi golongan atau unit tertentu yang disebut takson. Ilmu yang mempelajari klasifikasi makhluk hidup disebut taksonomi. Cara pembentukan atau  penyusunan  takson – takson disebut klasifikasi.
Selain mekalukan penggolongan (klasifikasi),dalam taksonomi juga dilakukan identifikasi atau determinasi (pengenalan). Melakukan identifikasi makhluk hidup berarti mengungkapkan identitas suati makhluk hidup, yaitu menentukan nama yang benar dan tempat yang tepat dalam klasifikasi. Untuk melakukan identifikasi atau determinasi dapat digunakan kunci identifikasi atau kunci determinasi. Ilmu yang mengkaji jenis-jenis keanekaragaman makhluk hidup disebut sistematika.
Saktiyono. 2008. Seribu Pena BIOLOGI untuk SMA/MA Kelas X. Erlangga:Jakarta
Sejak dulu manusia telah mengklasifikasikan makhluk hidup. Dasar dari klasifikasi makhluk hidup adalah persamaan dan perbedaan ciri-ciri pada berbagai jenis makhluk hidup. Klasifikasi makhluk hidup yang umum digunakan sekarang adalah klasifikasi empat kingdom. Klasifikasi ini pertama kali dipublikasikan oleh Carl Woese pada 1977. Kingdom-kingdom yang tercakup didalamnya adalah kingdom Archaebacteria, Eubakteria (bakteri), Protista, Fungi (jamur), Plantae (tumbuhan) dan Animalia (hewan). 
Pratiwi,D.A,dkk.2007.BIOLOGI untuk SMA Kelas X.Erlangga:Jakarta

B.  RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah pengertian dari konsep kategori?
2.      Bagaimanakah pembagian unit-unit klasifikasi?

C.  TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Agar mahasiswa mengetahui pengertian dari konsep kategori.
2.      Agar mahasiswa memahami pembagian unit-unit klasifikasi.

D.  MANFAAT PENULISAN
Sebagai bahan referensi dalam mempelajari mata kuliah Botani Tingkat Tinggi.

    






BAB II
PEMBAHASAN

A.  KONSEP KATEGORI
Dalam sistem klasifikasi, istilah tingkat takson disebut kategori. Spesies merupakan kategori dasar dari hierarki taksonomik, karena spesies merupakan batu dasar dalam klasifikasi biologik, dan dari spesies itu konsep-konsep golongan-golongan yang lebih tinggi maupun lebih rendah dikembangkan. Istilah kategori lazim digunakan dalam taksonomi hewan, namun jarang digunakan secara eksplisit dalam taksonomi tumbuhan.
Menurut Arijani (2000), Kategori adalah tingkat-tingkat atau struktur-struktur atau hirarki taksonomi dari yang tertinggi sampai yang terendah. Dalam menuliskan klasifikasi tumbuhan, kategori merupakan kerangkanya dan kemudian nama-nama kelompok tumbuhan dituliskan. Kategori sesungguhnya adalah pengaturan yang dilakukan oleh para ahli botani untuk memudahkan mempelajari klasifikasi tumbuhan. Oleh karena itu, seluruh kategori itu artifisial dan tidak dapat secara riil dilapangan. Sedangkan takson adalah kesatuan atau kelompok tumbuhan pada tingkat manapun.
Dalam Kode Internasional Tanaman Tumbuhan (KITT), telah diatur penulisan nama setiap takson pada kategori tertentu. Aturan penulisan nama takson pada setiap kategori ditetapkan pada pemberian akhirnya untuk masing-masing kategori dengan ketentuan sebagai berikut :






Kategori
Takson
Devisi
-phyta
Anak Devisi
-phytina
Kelas
-opsida
Anak Kelas
-idea
Bangsa
-ales
Anak Bangsa
-ineae
Suku
-aceae
Anak Suku
-oideae
Kategori bila dituliskan secara lengkap sesungguhnya ada 24 kategori. Dari 24 kategori tersebut dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1.    Kategori mayor (kategori besar) yaitu kategori yang dimulai dari dunia/kingdom/kerajaan sampai pada kategori diatas marga/genus. Secara lengkap dituliskan berikut :
Dunia (regnum)
Anak dunia (sub regnum)
Devisi (divisio)
Anak devisi (sub divisio)
Kelas (classis)
Anak kelas (sub classis)
Bangsa (ordo)
Anak bangsa (sub ordo)
Suku (familia)
Anak suku (sub familia)
Rumpun (tribus)
Anak rumpun (sub tribus)
2.    Kategori minor (kategori kecil) yang dimulai dari marga sampai kategori jenis. Secara lengkap dituliskan sebagai berikut :
Marga (genus)
Anak marga (sub genus)
Seksi (sectio)
Anak seksi (sub sectio)
Seri (series)
Anak seri (sub series)
Jenis (spesies)

3.    Kategori infraspesifik (kategori dibawah jenis) yang dimulai dari anak jenis sampai anak forma dan terdiri dari :
Anak Jenis (sub spesies)

Varietas (varietas)
Anak varietas (sub varietas)
Forma (forma)
Anak forma (sub forma)

Lumowa,V.T,Sonja.2012. Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi.Universitas Mulawarman:Samarinda
Anak jenis dianggap sebagai variasi dari salah satu jenis yang telah ditentukan serta merupakan variasi morfologi suatu jenis yang telah ditentukan, serta merupakan variasi morfologi suatu jenis yang telah ditentukan, serta merupakan variasi morfologi suatu jenis yang mempunyai daerah distribusi geografi tersendiri, tidak ditemukan bersama-sama dengan anggota populasi lain yang sejenis. Anak jenis adalah suatu kategori yang didalamnya termasuk unsur-unsur yang dengan memiliki ciri-ciri morfologi, geografi, dan ekologi tertentu, yang memberikan pembenaran untuk dipisahkan dari sisa populasi dalam suatu jenis.
Varietas merupakan suatu kategori di bawah tingkat jenis yang banyak digunakan dalam dunia pertanian. Oleh para ahli taksonomi, varietas dikonotasikan sebagai setip varian morfologi suatu jenis tanpa mengaitkan dengan masalah distribusinya; punya daerah distribusi sendiri; bersama-sama dengan varietas lain dalam jenis yang sama menempati daerah distribusi yang sama; menunjukkan beda warna atau habitus.
Forma lazimnya dianggap sebagai takson terendah atau kategori paling kecil. Biasanya forma digunakan untuk menempatkan variasi dalam jeis yang tak begitu penting. Variasi tersebut menyangkut: warna mahkota, warna buah, tanggapan terhadap habitat tertentu, dan sebagainya. Ke dalam forma dapat dimasukkan setiap varian yang kadangkala terjadi dalam populasi suatu jenis tanpa memperhatikan besarnya derajat penyimpangan dan konsistensinya.

B.  UNIT-UNIT KLASIFIKASI
Didalam Klasifikasi, makhluk hidup dipilah-pilah dan dikelompokkan menjadi golongan atau unit-unit tertentu yang disebut takson. Jadi takson merupakan tingkatan klasifikasi. Anggota takson yang lebih rendah memiliki persamaan sifat lebih banyak dibandingkan anggota takson yang lebih tinggi. 
Saktiyono. 2008. Seribu Pena BIOLOGI untuk SMA/MA Kelas X. Erlangga:Jakarta
1.    Species
Dalam taksonomi tumbuhan spesies sebagai unit merupakan suatu yang benar-benar ada di alam, dan telah banyak ahli-ahli ilmu tumbuhan yang telah berusaha untuk menjelaskan apakah yang dimaksud dengan spesies dan bagaimana batasan-batasannya. Ternyata hal itu bukan pekerjaan yang mudah. Hingga sekarang tidak ada seorang ahli pun yang mampu memberikan batasan mengenai konsep jenis itu yang dapat memuaskan semua pihak. Beberapa pengertian spesies menurut pandangan para ahli biologi antara lain:

a.         Species Taksonomi
Menurut konsep ini populasi-populasi yang terdiri atas individu-individu dengan ciri-ciri morfologi yang sama, dan dapat dipisahkan dari spesies lainnya oleh adanya ketidaksinambungan ciri-ciri morfologi yang berkolerasi.
Batasan ini didasarkan pada kriteria morfologi geografi. Konsep ini sudah dipakai sejak sebelum Linnaeus dan merupakan konsep yang paling umum dipakai orang hingga sekarang.
Lumowa,V.T,Sonja.2012. Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi.Universitas Mulawarman:Samarinda
b.        Species Biologi
Menurut konsep ini populasi-populasi yang disatukan sama lain oleh kemungkinan untuk saling kawin mengawini secara bebas, dan terpisah atau terisolasi dari species-species lainnya oleh penghalang reproduksi.
c.         Species Genetik
Menurut konsep ini membatasi spesies dengan suatu ukuran dari perbedaan genetik atau jarak di antara populasi atau kelompok dari populasi.
d.        Species Paleontologik
Menurut konsep ini ahli paleontologik bekerja dengan bahan-bahan fosil, sehingga tidak dapat secara langsung menggunakan konsep spesies yang didasarkan pada aliran gen dan isolasi reproduksi.
Lumowa,V.T,Sonja.2012. Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi.Universitas Mulawarman:Samarinda

e.         Species Kladistik
Menurut konsep ini, sesuatu keturunan dari populasi organisme yang dianggap sebagai nenek moyang yang tetap mempertahankan identitasnya dari keturunan tadi, dan mereka mempunyai kecenderungan secara evolusi dan kenyataan historik.
f.         Species Biosistematik
mencerminkan suatu unit-unit yang mencerminkan keanekaragaman hubungan kekerabatan reproduktif diluar pembatasan yang diberikan oleh hierarki Linnaeus. Banyak kategori yang telah diusulkan berhubungan dengan unit-unit hasil dari penyelidikan biosistematik yang menginterpretasi batas-batas reproduktif dari taksa, contohnya homogen dan heterogen. Homogen adalah suatu spesies yang secara genetik dan morfologik homogen, semua anggota-anggotannya interfertil, heterogen adalah suatu spesies yang tersusun dari kumpulan tumbuhan yang mempunyai keturunan yang sama, bila sendiri menghasilkan populasi yang secara morfologi tetap, tetapi bila disilangkan dapat menghasilkan tipe keturunan yang fertil dan viable.



2.    Marga (genus)
Marga adalah suatu kelompok spesies yang dari kesamaannya menunjukkan hubungan yang lebih dekat dibanding dengan kelompok spesies yang lain.
Lumowa,V.T,Sonja.2012. Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi.Universitas Mulawarman:Samarinda
3.    Suku (famili)
Kategori yang tingkatnya lebih tinggi daripada marga adalah suku. Tiap suku dapat mencakup satu marga atau lebih, dan biasanya didalam alam merupakan unit yang bersifat natural, dan mudah dikenal karena warganya menunjukkan ciri-ciri yang memberikan indikasi adanya pertalian yang erat, yang bagi orang awam pun mudah difahami mengapa tumbuhan-tumbuhan itu ditempatkan dalam satu unit.
Pada umumnya suku yang bersifat natural itu dianggap terdiri atas anggota-anggota yang berasal dari nenek moyang yang sama. Suku-suku tumbuhan tingkat tinggi dipisahkan satu sama lain karena adanya perbedaan yang melekat pada susunan alat reproduksinya. Seperti misalnya tipe perbungaan, duduknya bakal buah, letak tembuni, bakal biji, dll.
Tjitrosoepomo, Gembong.1993.Taksonomi Umum.Gadjah Mada University Press:Yogyakarta
4.    Bangsa ( Ordo)
Suatu suku atau lebih dapat membentuk suatu kategori yang lebih tinggi yaitu bangsa (ordo). Sebagai unit yang lebih besar daripada suku, suatu bangsa merupakan kategori yang semakin sukar untuk dikenali sebagai unit yang bersifat natural, namun sebagai unti klasifikasi tetap memperlihatkan keseragaman dalam sifat-sifat tertentu. Pada ahli taksonomi menyatakan bahwa suatu bangsa memiliki derajat kesatuan filogenetik tertentu dan dapat ditentukan dengan lebih pasti daripada takson dengan tingkat yang lebih tinggi.
Tjitrosoepomo, Gembong.1993.Taksonomi Umum.Gadjah Mada University Press:Yogyakarta

5.    Kelas (Classis)
Kategori yang lebih tinggi dari bangsa adalah kelas (classis). Sekalipun pada dasarnya diantara warganya juga ditemukan kesamaan ciri-ciri tertentu.
Tjitrosoepomo, Gembong.1993.Taksonomi Umum.Gadjah Mada University Press:Yogyakarta

6.    Divisi (Divisio)
Divisi terdiri atas sejumlah kelas dan seluruh warganya menunjukkan ciri morfologi atau organ yang sama atau mempunyai cara reproduksi yang sama, seperti tercermin dari nama-nama divisi Spermatophyta (tumbuhan biji), Thallophyta (tumbuhan talus), Schizophyta (tumbuhan yang berkembang biak dengan membelah diri).
Tjitrosoepomo, Gembong.1993.Taksonomi Umum.Gadjah Mada University Press:Yogyakarta















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.       Kategori adalah tingkat-tingkat atau struktur-struktur atau hirarki taksonomi dari yang tertinggi sampai yang terendah. Kategori sesungguhnya adalah pengaturan yang dilakukan oleh para ahli botani untuk memudahkan mempelajari klasifikasi tumbuhan.
2.      Unit-unit klasifikasi terdiri atas jenis (species), marga (genus), suku (famili), bangsa (ordo), kelas (classis), dan divisi (divisio).












DAFTAR PUSTAKA

Lumowa,V.T,Sonja.2012. Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi.Universitas Mulawarman:Samarinda.
Pratiwi,D.A,dkk.2007.BIOLOGI untuk SMA Kelas X.Erlangga:Jakarta.
Saktiyono. 2008. Seribu Pena BIOLOGI untuk SMA/MA Kelas X. Erlangga:Jakarta.
Tjitrosoepomo, Gembong.1993.Taksonomi Umum.Gadjah Mada University Press:Yogyakarta.